Mentilin (Tarsius Bancanus Saltator)

   

Salah satu keunikan dari Pulau Belitong adalah Fauna khas yang dimilikinya yaitu Mentilin (Tarsius Bancanus Saltator) atau dalam bahasa Belitong menyebutnya “Pelile’an” . Hewan ini merupakan hewan langka dan dilindungi keberadaannya oleh pemerintah. Hewan ini merupakan hewan primata terkecil di dunia mempunyai keunikan yaitu matanya yang sangat besar dan berwarna hitam saat malam hari (bisa melihat jelas), sedangkan jika pada siang hari matanya berwarna hijau (tidak bisa melihat dengan jelas). Hewan ini aktif pada malam hari dan hidup di pohon dengan ketinggian sekitar 0,5-2 meter.
Keunikan lainnya yaitu kepalanya bisa berputar 1800 ke belakang tanpa mengubah posisi tubuhnya. Hewan ini bisa ditemukan di Batu Mentas, Desa Kelekak Datuk, Kecamatan Badau, Belitung Barat. Hanya 30 menit dari Kota Tanjung Pandan. Selain itu juga terdapat di Kantor Dinas Pariwisata Belitung Timur.

HUTAN KERANGAS

Hutan Kerangas Aik Ketiau Desa Cendil Kecamatan Kelapa Kampit

Sebaran hutan kerangas di Indonesia hanya ada di Sumatera dan Kalimantan. Luasnyapun sangat kecil dibandingkan dengan tipe hutan lainnya. Hutan kerangas dalam jumlah yang luas hanya terdapat di pulau Bangka dan Belitung, dan sedikit di kepulauan Natuna (Whitten et al 1984). Sama halnya dengan Pulau Sumatra, Belitung pada masa lalu merupakan bagian dari dataran Asia dan menyatu dengan Borneo (Kalimantan).  Karena hubungan ini dan perkembangan geologinya, Belitung memiliki variasi topografi yang beragam dengan berbagai macam ekosistem, habitat, dan fauna khasnya. Menurut Whitten (1984), hutan-hutan di Belitung secara alamiah terbagi dalam tiga tipe yaitu hutan kerangas, hutan padang, dan sedikit hutan Dipterocarp (meranti, mersawa, dan kruing).  Tanah di hutan Belitung kaya akan bahan silika, miskin basa, berstruktur kasar serta mudah mengering, sehingga memiliki sifat sangat asam (pH 4-4,5).

Sumberdaya hutan kerangas tidak kalah dengan tipe hutan lainnya. Kondisinya yang ekstrim tersebut menyimpan jenis-jenis tumbuhan yang unik dan memiliki manfaat yang luar biasa. Vegetasi kerangas (padang/heath forest) berkarakteristik tipe tanah yang merupakan derivat silika, miskin basa, bertekstur kasar dan sangat mudah kering. Komponen dasar pada kerangas umumnya adalah berbagai jenis Dipterocarpaceae (Shorea ataupun Hopea). Myrtaceae (Tristania, Eugenia, dan Baeckia) bersama-sama dengan Alstonia, Cratoxylum, Dacrydium dan lain sebagainya (Whitmore, 1975). Menurut Oktavia (2012) sekurangnya terdapat 224 jenis tumbuhan disana, beberapa diantaranya yaitu ketakong/ kantong semar (Nepenthes spp.), drosera (Drosera burmanii), pelawan (Tristaniopsis obovata), ulin (Eusideroxylon zwagerii), pasak bumi (Eurycoma longifolia) dan lainnya. Sebanyak 101 jenis tumbuhan obatpun teridentifikasi berdasarkan pengetahuan masyarakat lokal setempat. Salah satu yang menarik yaitu pemanfaatan getah daun dari ujung duri butun (Cratoxylon formosum) yang masih dalam tingkat pancang sebagai obat kutil. Potensi betor belulang (Callophyllum lanigerum) juga banyak terdapat disana, dan jenis ini merupakan jenis yang mengandung Calanolide A yang berpotensi melawan virus HIV (Cragg et al 1995). Vegetasi kerangas tumbuh sangat lambat, dilaporkan cuma 1-2 cm per tahun,  sehingga merupakan jenis vegetasi yang mudah hancur apabila mengalami gangguan (Riswan, 1982).

Hutan Kerangas Aik Ketiau berada di Desa Cendil Kecamatan Kelapa Kampit, berjarak sekitar 55 Km dari Pusat Kota Manggar,  hutan kerangas di tempat ini mempunyai keragaman ekosistem dan vegetasi karena telah ada asosiasi antar vegetasi padang dan amau. Keanekaragaman Flora yang unuk juga banyak ditemukan disana seperti ada Nepenthes sp, Drosera burmanii, jenis tanaman hutan kerangas lainnya yang didominasi oleh sapu-sapu. Beberapa jenis lumut juga terdapat disana.

Lokasi Kecamatan Kelapa Kampit

Drosera burmannii, adalah spesies kecil dan kompak di genus tanaman karnivora Drosera . Kisaran geografis alaminya meliputi Australia, India, China, Jepang, dan Asia Tenggara. Biasanya berdiameter 2 cm (0,8 in). Ini adalah salah satu sundews yang menjebak tercepat juga, dan dedaunannya bisa melengkung mengelilingi serangga hanya dalam beberapa detik, dibandingkan dengan menit atau jam yang dibutuhkan sundews lain untuk mengelilingi mangsanya. Di alam, D. burmannii adalah tanaman tahunan , tapi dalam budidaya, saat ditanam di dalam rumah selama bulan-bulan dingin, ia bisa hidup bertahun-tahun. Sejak D. burmannii adalah tahunan, ia menghasilkan benih dalam jumlah besar. Drosera burrmannii telah dianggap sebagai rubefacient yang kuat dalam pengobatan Hindu.

Drosera burmannii adalah ramuan yang menghasilkan batang dan daun yang sangat pendek dalam roset . Setiap daun berbentuk baji biasanya panjang 8-10 mm dan lebar 5-6 mm. Bunga putih diproduksi dalam kelompok 3 sampai 10 pada 6-15 cm (2-6 in) perbungaan racemose tinggi, dimana bisa ada satu sampai tiga per tanaman.

Deskripsi singkat pertama dari spesies ini ditulis oleh Paul Hermann dan dipublikasikan setelah kematian Hermann oleh William Sherard di Musaeum Zeylanicum . Ini dijelaskan lebih rinci oleh Johannes Burman dalam publikasi tahun 1737 tentang flora Ceylon . Burman menggunakan polinomial Ros solis foliis di sekitar radicem dalam orbem dispositis , namun spesies tersebut tidak dipublikasikan secara resmi sampai tahun 1794 ketika Martin Vahl menamainya untuk menghormati Burman sebagai Drosera burmanni (julukan spesies biasanya dikoreksi secara ortografi ke burmannii ). Pada tahun 1871 Heinrich Gustav Reichenbach menggambarkan spesies baru, D. dietrichiana , dinamai menurut penemunya Amalie Dietrich . Dalam monografnya tahun 1906 Droseraceae , Ludwig Diels mengurangi spesies ini ke berbagai D. burmannii . Varietas ini digambarkan sebagai tanaman yang lebih besar dan lebih kuat daripada D. burmannii var. burmannii Baik D. dietrichiana dan varietasnya sekarang dianggap sinonim dengan D. burmannii .

 

 Tanaman Drosera burmanii yang terdapat di Padang kerangas

Ada kurang lebih 3 jenis kantong semar yang berada di Hutan Kerangas ini. Kantong semar atau dalam bahasa latinnya Nepenthes sp (dalam bahasa Inggris disebut Tropical pitcher plant) adalah Genus tanaman yang termasuk dalam famili monotipik. Tanaman yang terdiri atas sedikitnya 103 spesies ini mempunyai keunikan karena hampir seluruhnya merupakan tanaman karnivora, pemakan daging. Selain karnivora juga memiliki keunikan pada bentuk, ukuran, dan corak warna kantongnya. Karenanya tidak sedikit orang yang memeliharanya. Namun keberadaan Kantong semar (Nepenthes) di habitat aslinya justru terancam kepunahan.

   

Nepenthes rigidifolia

 

Kantong Semar termasuk Tanaman Langka dan dilindungi UU

Kantong Semar termasuk tumbuhan yang langka dan beberapa jenis (non hibrida) mendekati kepunahan. Dari 386 jenis fauna Indonesia yang terdaftar dalam kategori “terancam punah” oleh IUCN, beberapa spesies Kantong semar berada di dalamnya. Bahkan LIPI mengumumkan beberapa spesies Kantong semar (untuk menghindari perburuan, nama spesiesnya dirahasiakan) sebagai tanaman paling langka di Indonesia.

Karenanya tanaman ini dilindungi berdasarkan Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya. Juga peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Covention of International Trade in Endangered Species (CITES) mengategorikannya dalam Appendix-1 (2 spesies) dan Appendix-2. Kelangkaan Kantong Semar (Nepenthes) antara lain disebabkan oleh pembukaan hutan, kebakaran hutan, dan eksploitasi untuk kepentingan bisnis.

 

Untuk itulah selain bertujuan mengkonservasi hutan kerangas yang memang langka di dunia juga bisa melestarikan keanekaragaman hayati yang ada di tempat tersebut.